Jejak-jejak Karyaku

Jumat, 28 Februari 2014

Pria Idaman Wanita itu seperti...

Halo, blogger. Ririen yang cute datang lagi nih ngeposting blog. Berhubung sebentar lagi hari Kartini makanya gue mau ngeposting blog tentang WANITA.
Wanita adalah makhluk Tuhan yang paling lembut. Setiap wanita pasti memiliki kriteria khusus dalam memilih suami. Ada yang memilih suami karena wajah cakep, tinggi, putih dan sebagainya.
Tapi rata-rata wanita mendambakan suami seperti
1. Ustadz Azam (Tokoh di novel KETIKA CINTA BERTASBIH) karena dia agamanya kuat dan bekerja keras.
2. Fahri (Tokoh di novel ayat-ayat cinta) cowok yang memiliki kejujuran yang sangat tinggi.
3. Edward Cullen (Tokoh di film twiligth) cowok yang bisa melindungi wanita
4. Roby (Tokoh di film TUKANG BUBUR NAIK HAJI) cowok yang penyabar dan tahu keinginaan istrinya walaupun sang istri nggak bilang.
5. Alan (Tokoh di sinteron SURAT KECIL UNTUK TUHAN) Cowok yang memiliki keikhlasan yang luar biasa. Dia ikhlas menerima segala kekurangan wanita yang dicintainya.

Emang sih cowok-cowok yang gue sebutin hanya ada di novel/film. Tapi nggak ada salahnya kan cowok-cowok mencontoh sifat tersebut?

Minggu, 02 Februari 2014

Pesan Dari Penulis-penulis Senior

Jadi Penulis itu harus rajin. Kayak gue rajin ikut nimbrung di diskusi-diskusi yang ada di grup kepenulisan. Diskusi tersebut nara sumbernya penulis senior. Dari diskusi banyak banget ilmu yang didapat plus penulis senior juga memberi pesan pada penulis lainnya. Ilmu dan pesan dari mereka selalu gue catat di otak ataupun buku diary. Dan malam ini gue mau nyalin pesan-pesan dari penulis ke blog. Jaga-jaga siapa tahu esok gue amnesia. *loh?

-Pesan dari Hilal Ahmad, penulis buku antologi "Cinta tak datang tiba-tiba"
Kalau saya diajarin untuk terus menulis, menulis, menulis. ditolak, ya menulis lagi. dihujat atau dibilang jelek, ya menulis lagi. dibilang bagus atau dimuat, ya menulis lagi. dan jangan lupa baca tulisan orang sebagai perbandingan dan mendapat ilmu sebanyak mungkin, juga sering sharing sama penulis senior.

-Pesan dari Rangga Wirianto, penulis TSS
Dalam menulis, kita tahu betul apa yang mau kita tulis, kemana arahnya dan apa ujungnya.
Kalau udh tau 3 unsur itu aja, dijamin gak bkal ababiel.
Komitmen dengan satu naskah itu adalah komitmen untuk seumur hdup lho, kita gak bisa lagi mencabut naskah yang sudah beredar d masy. Konsisten lah dalam menulis.

-Aida Maslamah, penulis SUNSET IN WEH ISLAND
 Seorang penulis, nggak ada alasan nggak nulis karena sibuk. saya sudah berkeluarga dan punya seorang anak perempuan (5th) yang masih pengen ngelendot sama saya, saya jg mengajar, melihara hewan2 ternak saya di rumah. sperti yang saya omongin tadi, saya bisa menulis kapanpun dan dimanapun tapi untuk quality time biasanya saya nulis jam 9 pagi, kadang di rumah, di kafe atau di sekolah sambil menunggu kelas saya mulai.. dan saya selalu terobsesi dengan deadline, saya bisa kesurupan kalo dikejar2 DL, termasuk sekarang saya sedang battle dengan teman penulis saya untuk menulis 150 halaman untuk 1 minggu...jadi SEMANGAT, luang waktu dan terus belajar, Insya Allah usaha kamu yang terus istiqamah dalam menulis akan membuahkan hasl GOOD LUCK

-Pesan dari Pak Benny, Chef Editor Mizan
kalo kamu pengen naskah cepet di acc bikin naskah super keren (keren ide, story telling, karakter dll) atau bikin naskah super jelek (eyd kacau, dialog gak make tanda petik, dll) naskah super keren, editor baru baca sinopsis dan prolog langsung di acc, kalo naskah super jelek langsung ditolak. kalo naskahmu lama gak dapet kabar ada kemungkinan penerbit bingung mau acc atau tolak

-Pesan dari pak Edi Akhiles, CEO DIVA PRESS
PESAN: 1. buat saya, kualitas sebuah karya ditentukan oleh keunikan ide dan penyajiannya yang baik. Ide menuntut jelajah imajinasi dan imajinasi ditipang oleh pengetahuan, jadi jika pengin raih ide yang kuat/unik, penulis harus berpengetahuan luas (baca, sharing, jalan-jalan, kontemplasi, refleksi). Penyajian: ini ditopang pengetahuaan teori menulis. tp teori nulis butuh praktik. jadi melatih diri menulis. buat saya: produktivitas menulis berbanding lurus dengan kualitasnya. Alamiah ini.
 PESAN 2: dalam bekerjasama dengan siapa pun atau lembaga apa pun (termasuk penerbit), karya doang nggak cukup, tp juga dibutuhkan attitude yang baik. Hormati relasimu, hormati MoU-nya. Buatlah komuniaksi yang sejuk. Tentu saja saya nggak akan mau nerbitin karya penulis yang attitudenya gak asyik, misal: tiap hari nanyaaaaaa kapan terbit. atau sampai bilang "nggak profesional banget ya kok begini sih." no. kerjasama akan berjalan baik jika kedua belah pihak saling menghargai. dan ini penting. sebagus apa pun karya, jika attitud epenulisnya nggak sejuk, saya memilih tidak bekerjasama.
 PESAN 3: jika karyamu sudah dilempar ke publik, biarkan ia menjadi milik publik. apresiasi atau kritik sepedas apa pun itu hak publik. nggak bisa kita minta semua orang mencintai atau membenci kita, bukan? Kritik penting untuk masukan kita, tapi hanya kritik yang tulus dan membangun. adapun kritik yang hanya nyari kesalahan, nyela, apalagi pakai kata-kata gak manusiawi, preetin aja. nggak usah masukin hati, daripada semalaman kau nggak bisa tidur mikirin dia yang mungkin saja dia sedang cekikikan ma kawan-kawannya. thx for all, semoag bermanfaat ya, sampai jumpa di lain waktu.

-Pesan Dari Mom Fitria Pratnasari, penulis novel dan skenario
"CINTAI SETIAP PROSES BERKARYA KARENA BAGIAN ITU DAPAT MEMPENGARUHI KONTEN DAN MATERI KARYA KALIAN." Kesabaran juga merupakan bagian dari proses berkarya lho!

Sabtu, 01 Februari 2014

Cerpen Anak : Putri Terpenjara

Tahun 2013 lalu gue pernah iseng-iseng bikin cerpen anak buat kirim ke majalah bobo tapi sayang, 6 bulan gak ada kabar, pernah juga diikutkan lomba cerpen anak tapi gak lolos -_- mungkin karena gue gak bakat bikin cerpen anak. Nah, daripada cerpennya ngendep di pc mending gue posting di blog aja deh biar banyak yang baca. kebahagian penulis sebenarnya adalah karya dibaca orang.
Nih, cerpennya!



Putri Terpenjara


            “Bintang, aku lelah, letih, jenuh dengan duniaku yang sekarang. Tolong bilang sama Tuhan aku ingin sekali pergi ke suatu tempat yang asyik dan bisa menyenangkan hatiku,” ujar Rico bicara pada bintang.  Itulah kebiasaan Rico, jika ia lagi sedih, pasti ia pergi ke teras rumah lalu berbicara pada bintang. Ayahnya sebelum meninggal pernah berkata, “Bila kamu sedih dan merindukan ayah, bicaralah pada bintang dan bulan. Biar bintang yang nanti akan menyampaikan kesedihanmu pada Tuhan.”
            Rico adalah seorang anak laki-laki berusia 7 tahun. Hidupnya seperti sebuah robot yang harus dikontrol oleh pemilikya. Sejak ayahnya meninggal, mamanya ingin Rico lah yang melanjutkan pekerjaan sang ayah, yakni dosen matematika. Siang dan malam waktu Rico hanya digunakan untuk belajar, belajar dan belajar. Ia hanya diberikan waktu 1 jam untuk bermain oleh sang mama. Itupun hanya bermain di computer atau laptop kesayangannya saja. 
            Meskipun selama ini ia tidak pernah membantah perkataan sanga mama. Namun di lubuk hatinya menginginkan hidup seperti anak kecil yang lain bebas bermain dan bercanda bersama teman-teman.
            “Ric, kalau kamu bĂȘte. Main game Putri terpenjara aja! Gamenya seru loh, ada berbau matematika juga. Dijamin betemu langsung hilang.”
            Kata-kata Alfred, teman sebangkunya di tempat les terngiang di telinga Rico. Ya, tadi sore Alfred sempat mengirim game tersebut ke laptopnya. Rico pun penasaran dan ingin memainkan game yang diberi Alfred tadi sore. Ia berdiri, lalu melangkahkan kaki untuk masuk ke rumah. Begitu di ruang tamu ia langsung menemukan benda yang dicari. Tanpa banyak omong, ia membuka laptop. Ia masih ingat game yang diberi Alfred ada di folder received.
            Ia klik 2 kali pada game Putri terpenjara. Namun tiba-tiba Rico merasakan kepalanya pusing, pandangannya mulai kabur dan dalam beberapa detik ia sudah kehilangan kesadarannya.
            ***
            Kini Rico telah berada di sebuah istana yang sangat megah. Istananya itu seperti istana di negeri dongeng. Rico menggaru-garuk kepalanya yang tak gatal. Ia bingung sendiri kenapa bisa berada di tempat ini? Yang lebih membingungkan lagi adalah bagaimana caranya ia bisa pulang ke rumah?
            “Selamat dating di duniaku! Kamu adalah orang ke 500 datang ke sini untuk menyelamatkanku, kamu bisa pulang kembali ke duniamu setelah berhasil membebaskanku!” ujar suara perempuan. Rico menoleh kanan kiri untuk mencari sumber suara. Ternyata di pojok sebelah kiri ada penjara dan di dalam penjara itu Rico melihat seorang perempuan cantik serta memakai gaun indah.
            Rico baru sadar dirinya terlempar ke tempat ini karena mengklik game Putri terpenjara. Dan ia bisa pulang ke dunianya kalau berhasil membebaskan putri tersebut. Rico berjalan mendekati sang putri. Begitu tiba di depan penjara.
            “Putri, kenapa anda bisa terpenjara?”
            “Karena saya telah mencuri game milik anak raja, saya hanyalah anak tiri sang raja. Tolonglah bebaskan saya!”
            Rico semakin bingung. Perkataan putri sama sekali tak masuk akal. Tapi inilah hidup, terkadang sesuatu yang tak masuk akal bisa saja terjadi. “Bagaimana saya membebaskan anda? Di mana letak kunci penjara?”
            “Penjara ini bukan penjara biasa. Penjara ini bisa dibuka setelah berhasil menjawab soal yang ada di kertas ini.” Sang putri menunjuk kertas yang menempel di sel penjara. Rico mengernyitkan dahi tatkala membaca soal tersebut. Soalnya susah sekali. Tapi rasanya Rico pernah melihat soal itu sebelumnya. Rico mencoba mengingat-ingat lagi. Dalam waktu beberapa menit ia telah berhasil mengingat. Ya, soal itu pernah diajarkan oleh guru lesnya.
            “Putri saya sudah berhasi menemukan jawabannya. Gimana cara menjawabnya?”
            “Anda teriak saja jawabannya di depan penjara ini!”
            “JAWABANNYA 150!” teriak Rico sekeras-kerasnya. Seketika pintu penjara terbuka secara otomatis. Sang putri langsung keluar dari penjara.
            “Terimakasih banyak, telah membebaskan saya.”
            “Iya, sama. Saya juga senang membantu putri.”
            “Saya ingin bilang sesuatu sama anda.”
            “Bilang apa?”
            “Jangan pernah mengeluh dengan apa yang diminta orang tua. Yakinlah permintaan mereka demi kebaikanmu dan bermanfaat dikemudian hari.”
            ***
            Rico membuka mata. Ia sekarang berada di kamar tidurnya. Orang yang pertama dilihatnya setelah membuka mata adalah sang mama. Ia heran dengan penampilan mamanya yang acak-acakan, mata sembab.
            “Rico, alhamduliillah akhirnya kamu sadar juga.”
            “Emang apa yang terjadi?”
            “Rico, kamu telah pingsan selama 3 hari. Tak ada satupun dokter yang tahu penyebabnya.” Mama menghela napas sejenak, “Mungkin kamu pingsan karena keegoisan mama, mulai sekarang mama takkan memaksamu les sana sini lagi. Mama akan membebaskanmu untuk bermain bersama teman-temanmu.”
            Rico tersenyum simpul. Ia senang mamanya sadar, “Nggak apa kok Ma, Rico justru berterimakasih karena mama Rico bisa membebaskan sang putri.”
            Alis mama berkerut, “Sang putri? Maksudmu?”
            Rico hanya cengengesan. Nggak mungkin ia ceritakan pengalamannya kemarin pada mama. Kalaupun diceritakan juga mama nggak akan percaya.
            THE END



Kisah Hidupku di Muat di Koran lokal Banjarmasin post

Semoga bisa menginspirasi kalian!

BANJARMASINPOST.CO.ID - SUATU siang pada pekan lalu. Sembari duduk lesehan, Ariny NH serius memelototi komputer di rumahnya yang berdinding papan dan kayu di Jalan Martapura Lama Desa Keramat Baru, Banjar. Sesekali dia membuka buku, kemudian mengetik lagi.
Tidak ada yang istimewa di ruang itu. Selain komputer yang dilengkapi, hanya ada kipas angin kecil untuk mengusir gerah. Tidak berselang lama, Ariny bergerak menuju dapur. Hendak mengambil camilan. Dia tidak berdiri lalu berjalan, tetapi mengesot.
Ya, dia memang seperti yang lain. Sejak lahir, perempuan berusia 22 tahun itu mengalami cacat pada kakinya. Namun itu bukan penghalang baginya untuk berkarya. Putri pasangan Muslim dan Aidatun itu telah ‘melahirkan’ banyak buku. Kebanyakan novel.
Ada keunikan pada tokoh utama di novel-novel karya perempuan yang lahir di Solo, Jateng, 16 September 1991 itu. Dia pasti seorang penyiar radio. Mengapa? Ternyata, penyiar radio adalah cita-cita Ariny yang hingga kini belum terwujud.
Keinginan itu begitu besar. Namun, Ariny harus memendamnya karena menyadari sulit menjadi penyiar radio hanya berbekal ijazah madrasah tsanawiyah (setara SMP). “Saya tidak melanjutkan pendidikan karena nggak mau terus merepotkan orangtua. Cukup 9 tahun, mereka antar-jemput sekolah, “ tegas dia kepada BPost, kemarin.
Berhenti sekolah bukan berarti perempuan pengidola Pasha Ungu itu lantas berdiam diri dan menggantungkan hidup ke orang lain. Dia justtu menancapkan tekad untuk hidup mandiri. Caranya, berkarya melalui tulisan.
Menurut Ariny, menulis bisa dilakukan di mana saja. Dan, melalui menulis, dia bisa mencurahkan isi hari, baik sedih maupun senang ke tulisan. Sejak 2010, Ariny memantapkan diri memilih hidup melalui jalan menulis.
“Sebenarnya saya senang menulis sejak SD (sekolah dasar) karena sering membaca majalah BOBO. Tetapi tulisannya masih kacau balau, juga belum tahu caranya mengirim tulisan ke media,” kata dia.
Semangat menjadi penulis kian bergelora tatkala dia bertemu seorang penulis yang karyanya kerap dijadikan bahan cerita di film televisi (FTV), Fitria Pratnasari. Dari Fitria, Ariny mendapat banyak ilmu tentang penulisan.
Meski sudah menerjuninya sejak 2010, namun Ariny baru menulis novel pada dua tahun kemudian. Itupun digarap keroyokan bersama dua temannya. Judulnya, Ketika Cinta Semerah Darah. Namun, selalu ditolak saat ditawarkan ke penerbit.
Ariny tidak putus asa. Dia terus berusaha. Menulis dan menulis. Juga bergabung kebeberapa grup penulisan untuk menggali dan berbagi ilmu. Dari situlah, dia melangkahkan tekad memasuki dunia penerbitan indie.
Perjalanan tidak lantas memudah. Banyak aral yang dihadapi. Ketika ada karyanya yang diterbitkan, bukan jaminan dibeli orang. “Karena itulah mamaku sempat ngomel, ngapain aku menjadi penulis tetapi tidak mendapat duit. Mending aku menikah agar hidup terjamin,” ucapnya sambil tersebut.
Apa jawaban Ariny? Kepada mamanya dia menegaskan, baru akan menikah kalau novelnya bisa dijual di Toko Buku Gramedia.
“Padahal saat itu saya juga mikir. Bagaimana jika tidak pernah dijual di Gramedia. Aku kan tidak akan menikah. Bayangkan, enam novel selalu ditolak. Ada teman mengatakan saya harus memperbanyak membaca buku. Tetapi itu kan sulit, di Martapura tidak ada Toko Buku Gramedia. Kalau ke Banjarmasin, perlu uang,” ujar dia.
Semangat dan tidak putus asa menjadi pemacu Ariny untuk terus berkarya. Puluhan kali penolakan dari penerbit bukanlah tembok penghalang. Perjuangan itu membuahkan hasil pada Maret 2013. Naskahnya disetujui suatu penerbit, yang pernah 8 kali menolak naskah tulisannya. Tiga bulan kemudian, novel berjudul Kukembalikan Cintamu itu terbit. Dan, suprise.... dijual di Toko Buku Gramedia.
Keberhasilannya menembus Toko Buku Gramedia tak hanya membahagiakan Ariny. Sang ibu pun gembira. Bahkan, dia tidak segan-segan memberitahu tetangga. Bagi Ariny, keberhasilannya seakan membawa makna bahwa: terkadang kesuksesan baru bisa dicapai di saat rasa menyerah itu menggoda. (lis)
Terus berkarya
- Kuntilanak Gaul (Deka Publisher, 2012)
- Di antara Dua Pilihan (Deka Publisher, 2012)
- Ketika cinta semerah darah (GP Publishing, 2012)
- Love Storm In Seoul (Diandra, 2013)
- Susan Ngesot (Diandra, 2013)
- Ketika Hati Memilih Cinta (Diandra, 2013)
- Kukembalikan cintamu (Zettu, 2013)
- Kamu Adalah Cintaku (Rumah Oranye, 2013)
Penulis: Nurholis Huda
Editor: Halmien
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak