Jejak-jejak Karyaku

Senin, 18 Juli 2016

7 Manusia Harimau Jualan Bubur




        Nama gue Farid. Gue terlahir dari pasangan Umi Maryam dan Ustaz Zakaria. Ketika gue lulus  wisuda, gue nekat menikahi gadis bernama Lela, anaknya Bang Sobari dan mami Soimah. Untungnya Lela mau aja walau gue masih pengangguran.

            Gue jadi pengangguran nggak lama. Tiga bulan setelah menikah, gue diterima di PT GTI, kantornya Bang Robby suami Rumana anak Haji Muhidin. Sayangnya gue ditempatkan kerja di Bengkulu. Apa boleh buat demi sesuap nasi, gue rela berpisah dengan istri tercinta.
            Singkatan cerita gue sudah nyampe Bengkulu, tapi ternyata gue nyasar ke Kumayan. Tuhan masih sayang sama gue, DIA mempertemukan gue dengan gadis cantik pipinya tembem. Berkenalanlah gue sama dia. Nama gadis itu Karina.
            Gue nggak tau tinggal dimana, akhirnya gue dibawa Karina ke rumah bapaknya, Lebay Karat.
            “Limbubu, akhirnya kau datang juga ke sini, formasi inyek sudah lengkap menjadi tujuh,”
            Dahi gue berkerut. Sama sekali nggak mengerti apa yang dimaksud Lebay Karat. “Hah? Siapa tuh Limbubu? Saya tak mengenalnya,” jawab gue sopan.
            “Kau adalah Limbubu, anak datuk Alimata. Dalam kata lain kau keturunan inyek atau manusia harimau.”
            “Ah, datuk bisa saja. Saya ini keturunan Ustadz, bukan manusia harimau.”
            “Kalau kau tak percaya, mari ikuti gerakanku.”
            Datuk Lebay Karat memperlihatkan cara berubah menjadi manusia harimau. Oke, gue ikuti gerakannya. Hasilnya di luar dugaan gue. Gue bisa berubah jadi harimau. Pikiran gue dipenuhi dengan pertanyaan, “kalau gue keturunan inyek, ustaz Zakaria dan Umi Maryam siapanya gue?”
            Sementara gue lupain dulu soal orangtua yang di kampung duku. Datuk Lebay Karat mau memperkenalkan gue sama 5 inyek yang lain. Di antaranya ada datuk tunggal, atuk Abu, Rajo Langit, Humbalang, dan Gumara Petok Alam notabennya sebagai anak bungsu datuk Lebay Karat.
***
            Hari demi hari terus bergulir. Tanpa terasa sudah dua bulan gue berada di Kumayan. Makin ke sini cinta gue ke Karina makin bertambah besar. Bahkan gue sudah berjanji ke datuk Lebay Karat ingin segera menikahi Karina.
Gue tau apa yang gue lakukan itu salah. Tapi mau gimana lagi. Ketika cinta sudah mengetuk pintu hati seseorang, nggak ada seorangpun yang bisa menolaknya. Gue seperti ini seperti ini juga hasil belajar dari Bram. Dia aja bisa selingkuh dua kali dengan hello Kitty Karin, masa gue nggak bisa selingkuh dengan Karina?
Bibip... Bibip
HP butut gue berbunyi. Dilayarnya tertulis Lela calling. Panjang umur dia. Baru diomongin dah nongol.
“Assalamualaikun, Lela. Ada apa nelpon?”
“Waalaikumsalam. Lela mau ngabarin, besok Maisaroh mau ditaaruf sekaligus khitbah sama Adam, adik sepupu Ustaz Ghofar. Bang Farid bisa pulang nggak?”
“Alhamdulillah. Abang akan usahakan pulang ya.”
Tuuuut... tuuut
Telpon terputus. Mungkin pula Lela abis. Yaiyalah, selama gue di Kumayan gue nggak pernah kirim  duit ke Lela buat beli pulsa. Sekarang pikiran gue kalut. Pulang ke kampung duku naik apa? Duit transport dari Bang Robby sudah ludes buat beli seserahan nikah Karina. Kalau berlari jadi harimau, bisa berabe. Ketahuan dong jati diri gue.
Melintaslah Boy di otak gue. Boy itu sohib gue. Dia sering bolak balik Bengkulu Jakarta. Langsung saja gue nelpon Boy.
“Hallo, Boy. Lo bisa ke Kumayan nggak buat bantuin gue?”
“Haduh, Sorry Bro. Gue lagi jalan ke mall sama ART nih?”
“Hah? Bi Irah lo gebet dan ajakin jalan ke mall juga?”
“Bukan Bi Irah, dodol.”
“Kalau bukan Bi Irah, ART yang lo maksud siapa?”
“Ituloh ART jandanya Dirly.”
“Terus Reva lu kemanain?”
“Reva mah gampang. Jalan ma janda lebih menantang daripada bocah bau kencur.”
Klik. Gue mematikan sambungan telepon. Percuma ngobrol sama dia, dia nggak bisa bantu juga. Yang ada malah gue ketularan demen janda. Gue kembali mengingat, siapa lagi ya temen yang bisa dimintai tolong?
Galang si serigala? Nggak mungkin. Yang namanya serigala pasti berbulu domba. Ntar yang ada Karina bakal ditikung sama Galang.
Gue jadi kepikiran Bastian, adik kelas gue yang pecicilan dan rambut kribo. Gtapi gitu-gitu dia penyihir. Punya sapu terbang pula. Lumayan irit ongkos. Langsung saja gue telpon Bastian.
“Hallo, Bas. Lo lagi dimana? Bisa ke Kumayan nggak?”
“Ngapain gue ke Kumayan?”
“Gue mau minjem sapu terbang lu buat pulang ke kampung duku.”
“Oke, gue segera ke sana ya.”
Naik sapu terbang Bastian nggak perlu makan waktu banyak. Cukup 15 menit aja sudah sampai kampung Duku. Begitu mendarat di depan rumah Ustaz Zakaria, gue langsung sujud syukur ala-ala kontestan KDI lolos dari eliminasi.
Lela muncul di depan pintu. “Eh, ada Bang Farid. Lela kira nggak datang.”
“Ya datang dong. Masa adik sendiri nikah, abang nggak pulang?”
“Ya udah, yuk masuk! Acara khitbah sudah mau mulai.”
Ketika gue mau melangkah masuk ke rumah Ustaz Zakaria.
“Tunggu!”
Terdengar teriakan seorang perempuan. Dari suaranya, sudah sangat familiar di telinga gue. Seperti suara Karina. Untuk memastikan benar atau nggak, gue membalikkan badan. Seketika wajah gue pucat. Di depan gue sudah ada 6 inyek berwajah garang bak siap mencabik siluman.
“Kalian siapa?” tanya Lela.
“Harusnya aku yang bertanya, siapa kau? Ada hubungan apa dengan Limbubu? Aku calon istri Limbubu.”
“Jadi Bang Farid selama di Bengkulu selingkuh? Apa yang kamu lakukan ke saya itu jahat!”
Lela marah besar. Apa saja yang ada di depannya dibanting. Karena emosi tak terkontrol, Lela akhirnya menunjukkan jati dirinya sebagai siluman ular putih. 6 manusia harimau pasang kuda-kuda penyerangan ke Lela.
Bagai buah simalakama. Gue mesti gimana? Kalau gue belain Lela, gue yang bakal tewas di tangan inyek. Tapi kalau gue bela inyek, bakal kehilangan bini pertama. Nggak jadi deh gue ngikutin jejak Bram.
Di tengah kegalauan, datanglah emak haji, nawarin makan bubur gratis. Berhubung sudah jadwal makan siang, akhirnya kami nerima tawaran mak haji buat makan bubur dulu berantem lagi.
“Datok, bubur haji Sulam enak ya? Boleh ndak saya tinggal di Kampung Duku saja buat jualan bubur? Kan saya di Kumayan pengangguran,” celetuk Rajo Langit.
“Kau benar, Rajo. Aku pun juga ingin tinggal di kampung Duku buat jualan bubur.” Humbalang ikut menimpali.
Sejak saat itu akhirnya 7 manusia harimau hijrah ke kampung Duku dan beralih profesi menjadi jualan bubur.
THE END   

2 komentar:

  1. Anda Hobi Memprediksi Angka Togel ? Punya Mimpi Keberuntungan yang Tepat ? Tapi Bingung Cari Bandar Togel Yang Aman dan Terpercaya ?
    Mari Bergabung Bersama Kami di suksestoto,com , Kami Salah Satu
    Untuk Anda Member yang baru bergabung!kami memberikan Promo Khusus yaitu :
    -Bonus New Member 10rb untuk deposit pertama kali 50rb
    Promo Untuk Member Lama dan Member Baru :
    -Bonus Komisi 2% untuk anda yang mengajak Teman bermain.
    -Bonus Diskon Besar Besaran :
    *4D Diskon - 66% Hadiah 1.000 = 3.000.000 ( 1:3000 )
    *3D Diskon - 59% Hadiah 1.000 = 400.000 ( 1:400 )
    *2D Diskon - 29% Hadiah 1.000 = 70.000 ( 1:70 )
    -Bonus Jackpot Mingguan sebesar 2%
    Ayo Pasang angka anda di (S) (U) (K) (S) (E) (S) (4) (D) BO yang sudah terbukti Aman dan Terpercaya,silahkan Add pin BB kami pak 2B4BABF8 / 7B59A173
    salam JP! dari SUKSES4D
    togel online

    BalasHapus