Jejak-jejak Karyaku

Wednesday, August 21, 2019

NGOMELIN NOVEL ASTRAL KARYA MUTIARA KARIM

Judul : Astral
Penerbit : Penerbit Pustaka Tunggal
Penulis : Mutiara Karim
Tebal buku : 302 halaman



Gue mau minta maaf dulu ke author, soalnya gue gak jadi repiew ke yutub. Durasinya bakal panjang. Maybe 30 menit. Tau sendiri, 12 menit aja kualitasnya bapuk udah 500 mb lebih, apalagi yang 30 menit :v
Selain itu, ini novel bab 1 aja udah berasa ngebantai naskah ajaib di AT :v.
Sebelum gue ngebantai, gue mau ceritain plot singkatnya dulu.
Kematian Nyai Darmo -Emban/ART/pengasuh- rumah Raden Kerta Kesuma- secara mengenaskan. Setelah itu banyak warga merasa diteror oleh sesatu tak kasat mata diyakini 'hantu Nyai Darmo. Satu persatu juga ada aja yang meninggal. Masih banyak lagi kejadian janggal susah dinalar manusia.

Selanjutnya gue bahas story telling, EBI dan tanda baca.
-story telling gak asyik. Sangat melelahkan. Berasa baca artikel.
-Over kata "namun" dalam 1 paragraf. Kadang kata "namun" ditaruh di tengah, kadang di awal kalimat. Padahal setahu gue wajib di awal kalimat. Terus kudu memakai koma juga. Contoh "Sosok wanita itu sebenarnya cantik, malah terkesan menyeramkan. Namun, Sigit urung memanggilnya dengan sebutan tidak baik."
-Pengenalan karakter tokoh selalu ada kata "adalah" contoh :

sehingga sangat gak nyaman dibaca.
-Terlalu banyak kata 'itu' misal 'siang itu, sore itu'
Setahu gue, pemakaian kalimat tersebut untuk waktu yang telah lampau. Contoh : Pada masa itu penjajah membantai para pribumi.
Di novel ini justru menunjukkan kejadian sedang berlangsung.
Moga kalian ngerti yang gue maksud :v
-Banyak banget kata gak sesuai KBBI. Kayak kata 'sholat, mushola' malah pakai italic. Padahal tanpa italic pun sudah ada di kamus. Namun, penulisannya 'salat, musala'
Kemungkinannya cuma 3 : selingkung editor, emang gak diedit karena memakai paket penerbitan gratis, atau editornya Dedek Demesh.
-Banyak pemborosan kata 'masuk ke dalam' kalau udah masuk pasti ke dalam kan?
-Penggunaan kata kapital kurang pas. Contoh : dokter Syarifuddin. Padahal seharusnya profesi+nama=kapital. Dokter Syarifuddin.
Paling gue sebel adalah banyaknya kalimat lebay. Contoh :
"Langit malam tampak suram, tidak ada tarian gemintang ataupun senyuman dari sang rembulan. Arak-arakan awan berwarna kelam menambah nuansa muram. Suara angin ribut yang menabrak pepohonan menjadi satu-satunya hiburan di kegelapan malam."
Gue paham maksud author itu menciptakan diksi biar terkesan 'wah', tapi dia lupa lagi nulis novel horor. Yang di mana harusnya perkuat cita rasa tegang bukan malah berpuitis ria -_-

Sekarang bahas isi cerita.
-Adegab bab 1 dibuka Sigit habis ke acara, dia datang ke rumah sahabat yang udah 2 tahun nggak ketemu. Di sana tertulis si sahabatnya ini yang mengundang. Yang bikin gue gak like, kujuk-kujuk Sigit bilang, "Putrimu dikelilingi aura negatif, ada kekuatan jahat yang tidak suka atas kelahirannya."
Gimana sih rasanya sudah lama nggak ketemu, bukannya kangen-kangenan malah bilang aneh-aneh tentang anakmu? Orang yang punya kemampuan "indigo" gak seceplas ceplos itu. Mereka lebih memilih diam tentang apa yang dilihatnta.Beda halnya kalau dialognya direvisi jadi.
"Ada apa gerangan kau mengundangku ke rumahmu?"
"Begini akhir-akhir ini banyak kejanggalan terjadi terhadap putriku. Bisakah kau bantu terawang?"
Mungkin lebih enak sedikit.
-Paling menyebalkan di bab 3. Ada kata "yang berwenang berasumsi bahwa Nyai Darmo meninggal dibunuh suaminya sendiri."
Si suami tersebut ditahan polisi.
Lagi-lagi setahu gue, pihak kepolisian gak segampang itu menahan orang berdasarkan asumsi doang. Setidaknya munculin lah proses interogasi. Status bertahap dari tertuduh, tersangka sampai terpidana. Kalau misal gue salah, komen ya. Biar belajar bareng.
-Tokoh silih berganti datang dan pergi sesuka hati.
Sehingga gue cuma tahan baca novel ini hanya sampai bab 8. Halaman 60. Maafin gue ya author gak kuat review novelmu sampai abis. :v

Gue capek ngetik. Akhir kata terima transferan 8 digit ya. 🤣🤣🤣

No comments:

Post a Comment