Jejak-jejak Karyaku

Sabtu, 18 Oktober 2014

True Story



Difable? So ... What Gitu Loh?
Oleh : Ariny NH

Tahun 1994
Saat melangkah usia tiga tahun aku semakin merasa Tuhan nggak adil karena telah membuat hidupku kurang bahagia. Kurang bahagiannya bukan karena kesulitan ekonomi keluarga justru orang tuaku masuk dalam orang berada. Apapun yang aku mau pasti dituruti.
Yang bikin aku gak bahagia itu ada  dua faktor:
1. Didikan keras dari orangtua. Umur tiga tahun aku sudah diajarin baca, tulis, berhitung, mengaji dan lain-lain. Tujuannya biar aku lebih pinter dari anak lainnya.
2. Aku tidak punya teman. Anak umur tiga tahun lagi asyik-asyiknya bermain, nah aku hanya di rumah main boneka sendiri. Hal itu dikarenakan keadaan fisikku yang tidak mendukung. Kakiku itu ada kelainan, menyebabkan aku tidak bisa berjalan. Di dunia medis nama istilahnya itu Multiple Fraktur Kongenital. Yang artinya Kondisi patah di anggota gerak sejak lahir.
Jangan ditanya apa yang aku rasakan, sudah pasti jawabannya adalah bosan! Bahkan aku sempat bertanya ke mama, "Ma, kenapa sih aku diciptakan Tuhan seperti ini? Tuhan nggak sayang ya sama aku?"
Dengan lembut mama menjawab, "Arin Sayang,nggak boleh bilang begitu lagi ya ...  Tuhan justru sayang sekali dengan kamu. Tuhan ingin kamu terhindar dari dosa kaki."
Aku sendiri tidak mengerti apa yang dimaksud dosa kaki, tapi setiap ucapan lembut mama pasti menjanjikan kebenaran. Aku percaya mamalah yang akan membawaku ke surga nanti. Surgaku ada di bawah telapak kaki mama. Itupun yang selalu bu guru ajarkan di sekolah maka aku percaya dan tidak perlu bertanya lebih lanjut.
Untuk menghilangkan kesedihan karena aku merasa kesepian mama setiap sore membawaku pergi ke rumah nenek.
Di rumah nenek itu ada tiga tanteku. Mereka ada di rumah saat sore karena siang hari mereka sibuk sekolahdan kuliah.
Aku ke rumah tante bukannya diajakin main tapi diajakin nonton film Titanic dan Pangeran Rajawali.
Tahun 1997
Aku sudah berumur enam tahun. Alhamdulillah, di tahun 1997 usaha papaku semakin maju.
Alhasil, papaku bisa beli rumah sendiri. Soalnya selama ini tinggal di rumah yang dipinjami oleh mbah buyut. Mau nggak mau aku harus pindah rumah. Jujur aku sedih pindah rumah karena aku takut hidupku semakin sepi karena jauh dari tante-tante.
Papaku ternyata beli rumah di sebuah desa kecil, nama desanya itu desa Cemani. Jauh banget dari keramaian.
Dugaanku salah, di Cemani justru aku mulai dapat teman baru. Di antaranya adalah Ana, Huda, Via, mbak Idah, Eric dan masih banyak lagi. Mereka tetanggaku yang baik banget. Mereka yang datang ke rumah  untuk main bareng atau sekadar nonton TV bareng.
Sayangnya mereka bisa ke rumahku hanya pada saat sore hari. Pagi hari mereka harus sekolah, siang mereka harus tidur siang, sore baru diijinkan untu main.
Saat pagi hari aku lihat mereka berangkat sekolah aku merasa sedih. Dalam hati muncul keinginan sekolah sama seperti mereka.
Suatu malam aku sampaikan keinginanku untuk sekolah pada papa dan mama.
“Papa, Arin  pengen sekolah seperti Ana, Huda dan teman-teman yang lain,” ujarku membuka pembicaraan.
“Wah! anak papa sudah gede, sudah ingin sekolah. Ya, udah besok papa daftarin kamu ke sekolah yang paling bagus di Solo.”
Wajahku berubah cerah. “Beneran, Pa?”
“Iya benar. Kapan sih Papa pernah bohong sama kamu? Sekarang kamu tidur dulu ya!”
Aku mengangguk dan menuruti perintah papa. Nggak sabar ingin cepat pagi. Beneran nggak sih esok papa mau daftarin aku sekolah?
Esok harinya papamenepati janji. Papa membawaku pergi ke sekolahan tapi bukan sekolah yang aku inginkan. Papa membawaku ke sekolah SD. Sekolah yang aku inginkan itu sekolah TK alias Taman Kanak-kanak biar aku sekelas sama Ana, Huda dan Via.
“Pa, aku kan ingin sekolah TK biar sekelas sama Ana, Huda dan Via, kenapa papa malah membawaku ke sekolah SD?”
“Sayang, kamu itu sudah bisa baca, tulis dan berhitung jadi kamu nggak perlu lagi sekolah TK segala.”
Jujur aku kecewa, tapi aku tak bisa membantah. Lagi-lagi akumenurut dengan apa yang dikatakan papa daripada aku nggak jadi disekolahin.
Di kantor guru saat menghadap kepala sekolah. Aku sama papa disambut oleh tatapan sinis. Aku mengamati kepala sekolah itu dari ujung kaki ke ujung kepala. Kepala sekolah itu bertubuh tinggi, kurus, kulitnya hitam dan berkumis.
“Selamat pagi, Pak. Ada keperluan apa Anda ke sini?” Tanya kepala sekolah itu ke papa.
“Selamat pagi juga Bapak. Saya ke sini ingin mendaftarkan anak saya sekolah di sini.” Papa menyentuh pundakku.
Sekarang gantian kepala sekolah itu yang memandangiku lagi dari ujung kaki ke ujung kepala.
“Bapak nggak punya kaca ya? Anak bapak kan termasuk penyandang difable, Harusnya anda mendaftarkan anak Anda ke sekolah SLB bukan sekolah di sini!” ujar kepala sekolah itu dengan nada tinggi.
Papa menjawab dengan nada tak kalah tinggi, “Hey, Anda jangan sembarangan bicara meskipun anak saya punya kekurangan tapi otak anak saya jauh lebih cerdas dibandingkan dengan murid di sekolah ini! Permisi!
Usai berkata demikian papa langsung menggendongku untuk keluar dari sekolah ini.
Kami pulang ke rumah, nggak mampir kemana-mana dulu. Sesampai di rumah mama menyambut kami dengan kening berkerut.
“Loh, kok pulang-pulang wajah kalian kusut seperti baju belum disetrika?”
“Aku nggak dibolehin sekolah sama kepala sekolahnya. Kata kepala sekolah aku pantasnya sekolah di SLB. Ma, sekolah SLB itu apa sih?” Kataku ingin tahu.
Mata mama beralih ke papa. Papa mengedipkan mata.
Tak lama kemudian mama mengangguk lalu berkata, “Kamu yang sabar ya, kamu itu terlalu pintar untuk sekolah di sana. Besok papa akan daftarin kamu ke sekolah yang jauh lebih bagus daripada sekolah yang tadi.”
Esok harinya papa membawaku ke sekolah SD Al-Amin, letak sekolah tak jauh dari rumah. Di sekolah itu lah aku diterima dengan senang hati. Semua guru ikhlas menerima kekuranganku dan bahkan mereka menjadikanku sebagai anak mask arena aku selalu masuk 5 besar dari kelas 1-3.
Hari demi hari berlalu tanpa terasa usiaku sudah 21 tahun. Aku sudah tak tinggal lagi di Solo, sudah pindah ke Martapura. Kesunyian dan kesendirian masih tak mau beranjak dari hidupku. Tapi aku bisa membuat kesunyian itu menjadi berkah. Kesunyian mampu melahirkan imajinasi-imajinasi di kepalaku. Semakin hari imajinasiku semakin liar, sehingga muncul keinginan menjadi penulis sepenuhnya untuk menuangkan imajinasi ke dalam tulisan. Menjadi penulis tentu bukanlah hal yang mudah. Aku harus merasakan pedihnya penolakan dari penerbit mayor sebanyak 30 kali.
            Apakah penolakan dari penerbit menyurutkan semangatku? Tentu tidak, penolakan justru membuatku kuat dan semakin semangat berkarya. Alhamdulillah, Tuhan masih menyayangiku. Tahun 2013 naskahku tembus mayor label dan sekarang sudah beredar 2 novelku di gramedia. Judulnya Kamu Adalah Cintaku dan Kukembalikan Cinta. Bukan hanya 2 buku yang berhasil kulahirkan tapi puluhan. Berikut rinciannya : 8 novel kroyokan (terbit di indie), 3 buku antologi terbit di mayor, puluhan cerpen lolos di lomba yang diadakan penerbit indie. Sekarang bukan Cuma jadi penulis tapi juga jadi editor di sebuah penerbitan indie dan aku buka usaha kecil-kecilan seperti jual pulsa, cetak foto, dan lain-lain.
            Bukan Cuma itu saja, pada tahun 2013 aku mendapat bantuan kursi roda dari Senyum Pelangi, program kab. Banjar yang bekerja sama dengan UCP (United Cerebral Palsy) Yogyakarta. Aku masuk gelombang 2 dari 5 orang yang menerima bantuan tersebut. Senang? Pastinya. Karena kursi roda ini akan meringankan langkahku untuk menjadi penulis yang sukses. Karena kursi roda ini saya mengenal orang-orang baru, diundang ke acara hari jadi kab. Banjar, bertemu dengan banyak wartawan. Ini bagaikan mimpi buat aku. So, aku ingin berterima kasih banyak kepada kab. Banjar yang sudah mengadakan program Senyum Pelangi dan juga terima kasih kepada UCP (United Cerebral Palsy) yang telah memberi kursi roda kepadaku. Apa yang kalian beri sangat berarti untukku.
            Dari pengalaman hidup, aku menyimpulkan bahwa “Keterbatasan bukan penghalang seseorang untuk maju, yang menghalangi itu rasa ingin mendapat sesuatu dengan cepat.”
            Aku berharap kisah nyata dalam hidupku mampu memotivasi kalian semua.
            ***
            Ariny NH merupakan nama pena dari gadis cantik nan imut yang bernama Ariny Nurul Haq. Ia anak pertama dari dua berasaudara. Lahir Di Solo tanggal 16 september 1991, Tanggal lahirnya bertepatan dengan tanggal lahir Ariel Noah. Penulis satu ini sangat bercita-cita jadi penyiar radio. Ia juga sangat mengidolakan Pasha Ungu. Karya-karyanya yang telah terbit antara lain: Novel “Kuntilanak gaul” (DeKa publisher), Novel “Diantara Dua Pilihan” (Deka publishing, 2012),  “Ketika cinta semerah darah” (Goresan pena publishing), Novel Love Storm in Seoul (Diandra creative), Kukembalikan Cintamu (Zettu, 2013), Kamu Adalah Cintaku (Rumah oranye, 2013) dan beberapa karyanya masuk dalam sebuah antologi cerpen. Bisa dihubungi di nomor handphone 085654910277, akun facebooknya “Ririen Narsisabiz Pashaholic”, akun twitter @airin_napasha,  blognya www.arinysusanti.blogspot.com. Emailnya arinymoela@ymail.com


4 komentar:

  1. Sungguh meninspirasi dan bisa memotivasi para penulis-penulis pemula yang belum apa-apa sudah menyerah, Terima kasih, mb Ariny... :) :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aminnn *emang itu tujuan saya biar penulis2 lain itu pantang menyerah

      Hapus
  2. Pengalaman menarik yang bermanfaat menginspirasi anak-anak negeri ini termasuk saya. Kami yang sempurna, belum bisa menjadi penulis sementara Airiny sudah melakukan hal yang luar biasa. Sukses terus mbak

    BalasHapus
  3. Subhanallah terenyuh sekali baca ceritanya. Kakak hebat. :'D

    BalasHapus