Jejak-jejak Karyaku

Senin, 24 Oktober 2016

Mengajarkan Arti Perjuangan Sesungguhnya (Resensi)



Judul : Perjalanan 1.827 Hari
            Penulis : Agus Sasirangan & Arief Rahman Heriansyah
            Penerbit : PT. Grafika Wangi
            Tebal : 213 halaman

Agus Gazali Rahman atau biasa disapa Agus Sasirangan. Di tahun 2016 siapa sih warga banua Kalimantan Selatan yang tidak mengenalnya? Dia bukan Cuma meraih title ‘Runner Up Master Chef Indonesia season 1’ tapi juga melakoni 5 profesi sekaligus yakni Chef, Guru, Fashion Designer, Wirausaha kuliner dan entertainner. Tak semua orang tahu di balik kesuksesan Mas Agus ada perjuangan luar biasa.

            Pada 15 Oktober 2016 Mas Agus melaunching buku biografi perjuangan kariernya di dunia kuliner. Buku itu diberi judul ‘Perjalanan 1.827 Hari” Mas Agus mengemas isi buku dengan sejujur-jujurnya.
            Buku “Perjalana 1.827 Hari” sebenarnya ada 5 bab. Bab pertama dibuka dengan kisah pilu masa kecilnya Mas Agus. Tahun 1997 di saat anak-anak cowok usia 11 tahun asyik beli mobil tamiya, Mas Agus justru berjuang nabung 500 rupiah sehari demi bisa beli kompor minyak tanah. Ia mulai masak sendiri pasca ditinggal sang ibu ke Mekkkah.
            Bab kedua, menceritakan tentang pahitnya hidup di perantauan. Yup, Mas Agus begitu lulus dari Banjarmasin, ia ke Malang dengan beasiswa yang pas-pasan. Dia juga mulai mengikuti kompetisi-kompetisi keren.
            Bab ketiga, Mas Agus sudah masuk Galery Master Chef season 1. Di sanalah perjuangan Mas Agus yang sesungguhnya. Mentalnya dibanting abis-abisan. Tahu sendiri kan komentar Chef Juna kayak gimana?
            Dari buku itu saya menemukan fakta terbaru bahwa seorang Mas Agus ternyata phobia naik kapal laut. Di halaman 33 tertulis “Perjalanan naik kapal laut ternyata tidak seenak yang dibayangkan. Sumpah! Angin laut yang membuat masuk angin dan muntah-muntah.” Dari kalimat itu aja sudah tersirat Mas Agus kapok naik kapal laut.
            Terbesit tanya dalam hati, “Posisimu dimana toh, Mas? Dirimu berdiri doi ujung kapal ala-ala Jack di fim Titanic kah jadi masuk angin?”
            Menjelang ending bab 4, saya jadi gregetan. Bab ini menceritakan Mas Agus lagi galau mikirin modal bangun mie Bancir di Banjarmasin. Rasanya tuh pengen teriak, “Kenapa mesti galau toh Mas? Kan kamu bisa nagih royalti 4 buku resepmu di GPU. Apalagi satu judul cetak 3000 eksemplar. Saya yakin deh satu judul terjual 1000 eks. DP di GPU sampe 5 juta, 4 judul berarti udah dapet DP 20 juta.
            Buku Perjalanan 1.827 Hari juga dilengkapi dengan qoutes-qoutes manis. Qoute yang saya suka ada 2. Pertama di halaman 57. Berbunyi, “Bermimpilah setinggi langit, jika kau jatuh, kau jatuh di antara bintang-bintang.”
            Qoute favorit kedua di halaman 135. Berbunyi, “Kadang ilmu yang kita berikan lewat suara bisa hilang begitu saja tanpa membekas di telinga dan benak orang lain namun lewat ilmu yang kita goreskan dalam sebuah buku tentu akan lebih banyak memberi manfaat yang selalu bisa ada wujudnya di tangan orang lain.”  
            Tak ada karya yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah. Di buku “Perjalanan 1.827 Hari” aku menemukan beberapa kekurangan. Di antaranya :
1.      Ada beberapa yang bikin dahi saya mengernyit. Salah satunya di halaman 35, tertulis kata ‘Bahasa Bakumpai’ ada baiknya bahasa Banjar make footnote aja. Jika diedarkan ke tokobuku seluruh Indonesia, pembaca di luar Kalsel pada tidak mengerti. Saya yang 14 tahun di Kalsel aja, tidak mengerti Bahasa Bakumpai.
2.      EBI (Ejaan Bahasa Indonesia) masih banyak yang keseleo. Terutama penulisan di+kata tempat yang harusnya dipisah malah disambung. Di+kata kerja yang harusnya disambung malah dipisah.
3.      Peletakan tanda baca yang kurang pas pada dialog. Seperti yang tertulis di halaman 169 : “Alhamdulillah, makasih banyak ya mas.”, (Salah) Yang benar seperti ini, “Alhamdulillah, makasih banyak ya, Mas.”
Berhubung buku Perjalanan 1.827 Hari sudah sangat menginspirasi, kekurangan yang saya sebutin tak kan berarti apa-apa di mata pembaca. Apalagi yang sudah terlanjur ngefans sama Mas Agus hehehe.
Well, Jika saya disuruh ngasih rating maka saya saya akan kasih 3,5 bintang. Saya nyesel akut baca buku tersebut. Nyeselnya itu ngefollow dan kenal dekat sama Mas Agus bulan Agustus 2016, coba kalau saya kenal dia dari 3 tahun yang lalu pasti buku itu terbitnya di Arsha teen.

*resensi ini dimuat di radar banjarmasin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar