Jejak-jejak Karyaku

Jumat, 15 November 2013

Perjalanan gue dalam merintis karir di dunia kepenulisan

Hallo, blogger. Ririen yang cute datang lagi. Kali ini gue mau bercerita bin mendongeng tentang perjalanan gue dalam merintis karir di dunia kepenulisan.

Menulis itu bukan pekerjaan sia-sia tapi pekerjaan yang memerlukan ekstra kesabaran. Kayak gue mewujudkan mimpi jadi penulis yang benar-benar bukanlah hal yang mudah. Banyak asam, asin dan pahit pernah gue lalui.

Gue suka dunia ke penulisan sebenarnya sudah dari SD, waktu itu aku berlangganan majalah bobo. Setiap lihat cerpen di majalah, gue sering berkata "bisa nggak ya kelak aku jadi penulis cerpen?" tapi sayang, gue sama sekali buta tentang gimana caranya kirim naskah ke media. waktu itu belum ada pc juga.
Lama melupakan mimpi jadi penulis, gue fokus sekolah dulu.
Waktu tahun 2010 gue iseng-iseng nulis cerbung fanfiction tokoh utamanya itu personel ungu. Itu tulisannya masih amburadul pakek banget plus sama sekali nggak makek EyD. Tapi anehnya teman2 fb gue banyak yang suka kata mereka, "Cerbungnya keren dijadikan novel aja." sejak itu muncul lagi hasrat ingin jadi penulis.

Gue mulai rajin baca2 cerbung orang dan bertemulah dengan mamah Fitria Pratnasari. Beliau mencemplungkan gue ke grup PGC, di situ gue dibimbing dan banyak dapet ilmu tentang kepenulisan.
tahun 2012 gue mulai coba bikin novel. Berhubung gue masih belum sanggup nulis 100 hal aku mengajakin 2 orang sahabat untuk garap novel bareng. Novel pertama yang kugarap KCSD, novel itu ditolak 3 kali lebih.
Nggak puas cuma berguru 1 orang. Gue nyari guru lagi, terus masuk ke grup2 kepenulisan yang lain. Grup setelah PGC, yang gue masukin itu Inspirasiku dan antologi es campur. Di sana gue tahu tentang penerbitan indie dan mulai mengikuti event2 penerbitan indie. Buku antologi pertama "Cerminku bicara" hasil event fiksi mini inspirasiku. Gue juga sempat mikir, "novel gue daripada ngendep di pc mending terbitin di indie aja kali ya?" gue rundingin ke patner, mereka setuju. Bulan Oktober novel KCSD terbit di GP Publishing. Kebetulan penerbitannya baru dan paket penerbitannya gratis.


Ditolak bikin lagi sampai akhirnya novel ke 6, semuanya ditolak mayor dan berakhir terbit di penerbit indie. Aku sempat depresi dan nyaris menyerah. Jelaslah gue nyaris nyerah, 6 novel 1 buku paling terjual 5 eks. mamaku ngomel "ngapain sih lu jadi penulis? Nggak jadi duit. mending lu kawin. jelas hidup lu terjamin."
 Gue jawab, "Iya, Ririen akan novel dah mejeng di gramedia."
dalam hati gue ngomong, "Iya, kalo mejeng di gramed kalau nggak? Gue nggak kawin-kawin? 6 novel aja ditolak mulu."
gue jadi penasaran Kenapa ya novel gue ditolak mulu? 6 novel, gue harus menerima 25 kali penolakan penerbit. 1 novel ditolak 5 kali, padahal udah bolak balik gue revisi.

kata teman gue perbanyaklah membaca buku. Di sinilah kesulitannya, bukannya gue gak mau beli dan menghargai karya orang tapi di martapura nggak ada gramedia. adanya di banjarmasin, ke BJM perlu biaya 200 rb. Kalau beli buku lewat online lebih mahal ongkir. Bahkan penjualnya pada ngotot jasa pengiriman lewat JNE, padahal lewat pos lebih murah.

Gue berinisiatif lain, yaitu baca E-book. Ebook yang gue baca novel2nya tante Mara GD, MIRA W, and novel2 tema pernikahan. Gue tertarik, "kalau gue pindah genre seru kali ya?" kebetulan akhir desember 2012, mantanku bilang "Rin, perjalanan cinta kita dijadikan novel dong? Biar anak cucu kita bisa baca"

perjalanan cinta gue ribet sama kayak perjalanan karir gue. Cinta nggak direstui, gue jadiin novel tapi dicampur dengan fiksi, endingnya gue ubah. soalnya klo endingnya nyata sampai sekarang gantung wkwkwk. Itu novel gue coba2 kirim ke kino media WA. Gue nggak yakin sebab naskah gue pernah ditolak KWA 8 kali. Tapi di luar dugaan bulan maret 2013 naskah gue malah di acc KWA, bulan Juni terbit dan beredar di gramedia.

                                                               Foto novel gue mejeng di gramed

Dari sini gue belajar penulis itu sama kayak seorang ibu yang mau melahirkan anaknya. Kelihatan mudah tapi prosesnya panjang. Jangan mikirin duit dulu. Yang penting memperbaiki kualias karya. Cara memperbaiki kualitas karya rajin2 membaca, gabung ke grup kepenulisan, amalkan ilmu2 yang ada di grup2 tersebut, dan paling penting seting2 buka kamus bahasa Indonesia. Terkadang kesuksesan bisa kita raih ketika kita nyaris menyerah. Kalau kamu menyerah maka nggak akan sukses.

Udah dulu ya ceritanya. Tangan gue capek ngetik! Buat teman2 yang mau jadi penulis 1 hal yang harus kalian tahu jadi penulis ngggak langsung dapet duit. Prinsipnya cuma 1 jangan menyerah! Rasa capek menulis akan hilang dalam sekejap ketika melihat novel mejeng di gramedia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar