Jejak-jejak Karyaku

Sabtu, 20 Agustus 2016

Masalah Membuatmu Naik Level





Tahun 2016 banyak yang mengatakan aku lagi tokcer alias tahun keberuntungan buatku. Pasalnya bulan Mei 2016 ke Jakarta menerima penghargaan anugerah telkomsel 2016, eh bulan Agustus terbang ke Jakarta lagi karena diundang ke Hitam Putih.
            Banyak yang nyinyir, “Wah, enak banget lo sekarang makin sukses. Blabla ...”
            Suksesnya aku baru tahun ini, sedangkan aku harus nerima kengenesan sejak SD. Kali ini aku nggak ingin membi carakan kengenesanku sejak SD, karena sudah kutulis di novel #KauBegituSempurna. Aku ingin berbagi kisah kengenesanku di dunia literasi.
            Seperti yang aku bilang tiap diliput wartawan koran atau tivi, aku menerima penolakan mayor label 50 kali. Padahal selain itu masih banyak kengenesanku di dunia literasi. Di antaranya :

1.      Terjebak Kasus ISBN palsu.
Tahun 2012 aku terjun ke penerbitan indie sebagai penanggung jawab lomba menulis dan editor freelace. Apesnya penerbit tempatku kerja itu ternyata belum memiliki akta notaris. Buku-buku terbitannya menggunakan ISBN palsu. Efeknya aku didemo kontributor, dituduh kongkalikong sama penerbit itu. Padahal aku sama sekali nggak tahu menahu sama kejahatannya.
2.      Di-PHP-in mayor label.
Tahun 2014 aku nulis novel kroyokan sama teman-teman hasil orderan dari mayor label. Ketika dah selesai TTD kontrak jual putus, mereka ngasih DP dulu 500 ribu sisanya habis terbit. 2 minggu kemudian buku itu terbit terus buka PO. Satu bulan kemudian tiba-tiba penerbit itu bilang nggak jadi terbit mayor gara-gara penjualan PO nggak mencapai target 100 eks. Padahal hal itu nggak ada di MoU.
3.      Dimanfaatkan oleh owner penerbit abal-abal
4.      Dikibulin oleh orang yang dah kuanggep saudara selama 1,8 tahun
Bagian ini nggak perlu gue ceritain lah ya. Karena dia dah menebus kesalahannya.

            Nggak usah ditanya apa yang aku rasain ketika berhadapan dengan kasus-kasus di atas. Jawabannya jelas Down. Bahkan aku nyaris mau mundur dari dunia literasi. Tapi Ratri Desmayana- penulis novel ‘Ups, Arla!’ tiap aku kena kasus dia selalu memberikan semangat untukku. Dia bilang gini, “Masalah bikin lu naik level, Rin.”
            Kini aku merasakan apa yang dirasakan Ratri itu benar.
            Dari kasus nomor 1 membawaku punya penerbitan indie sendiri yang bernama Arsha Teen. Kasus nomor 2 membawaku dikenal oleh wartawan-wartawan koran dan tivi. Kasus nomor tiga 3 membawaku meraih penghargaan anugerah telkomsel 2016. Kasus terakhir membawaku diundang oleh Hitam Putih.
            Ngomongin Hitam Putih, aku bisa diundang ke sana berkat jerih payahku juga sih. Penasaran nggak gimana caraku bisa diundang HP? Baca aja novel ‘Melepasmu untuk Sementara’ (KBS Season 2). *ujung-ujungnya promo
            Intinya postingan adalah kalau lu mau nyinyir orang sukses, lu kudu cari tau dulu perjuangan dia mendapatkan kesuksesan itu. Jangan bisanya cuma nyinyir doang. 
            Aku sih cuek sama nyinyiran orang. Yang penting aku bisa foto selfie sama om Choky Sitohang. Dia aslinya ganteng banget. Putih, tinggi, berotor dan ramah pula. Sebelum take, aku diajakin ngobrol ma dia, Bahkan waktu  acara selesai, dia bantuin angkatin kursi rodaku. Duh, gusti dia artis nyaris sempurna. Coba kalau belum punya istri tak gebet wkwkwk :p

 
    

2 komentar:

  1. Super sekali. Tidak ada kesuksesan instan memang di dunia ini. Butuh perjuangan dan jungkir balik. Semangat Mbak arini, maju terus. . .pantang mundur ..

    BalasHapus
  2. Mbak Ariny, aku pun salah satu hamba yang punya perbedaan fisik. Sering dicemooh dan kisah Mbak sangat menginspirasi saya untuk terus berkarya.. Tetap semangat dan teruslah berkarya! 😊

    BalasHapus